manusia dan pandangan hidup
TUGAS
ILMU
BUDAYA DASAR
MANUSIA
DAN PANDANGAN HIDUP
|
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2014
DAFTAR ISI
Cover................................................................................................................................. i
I.
Bab 1 pendahuluan..................................................................................................... 1
II. Bab
2 pembahasan...................................................................................................... 2
1. Pengertian
pandangan hidup dan ideologi........................................................... 2
2. Makna
cita-cita.................................................................................................. 8
3. Makna
kebajikan.................................................................................................. 9
4. Kepercayaan
dan keyakinan.............................................................................. 13
5. Makna
sikap hidup…………………………………………………………….15
6. Manusia
dan pandangan hidup………………………………………………..19
III. Bab
3 penutup ......................................................................................................... 23
Daftar
Pustaka................................................................................................................ 25
MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Dalam hidup ini, pandangan hidup ternyata sangat penting, baik
untuk kehidupan sekarang maupun akan datang. Pandangan hidup merupakan bagian
hidup manusia, karena tidak ada seorang pun yang hidup tanpa pandangan hidup
merkipun tingkahnya berbeda-beda.
Menurut Koendjaraningrat,
pandangan hidup adalah nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, yang
dipilih secara selektif oleh para individu dan golongan di dalam masyarakat.
Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan dan sikap hidup, semuanya itu
tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan.
Dalam hidup ini kita sangat
membutuhkan pandangan hidup, karena pandangan hidup akan mengacu kita pada
kehidupan yang lebih baik dan memotifikasi kita untuk menggapai sesuatu yang
kita inginkan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
PANDANGAN HIDUP DAN IDEOLOGI
a. Pengertian
Pandangan Hihup
Menurut Koentjaraningrat (1980)
pandangan hidup adalah nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat yang
dipilih secara selektif oleh para individu dan golongan didalam masyarakat.
Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan dan sikap hidup. Sedangkan
menurut Manuel Kaisiepo 1982, pandangan hidup merupakan bagian hidup manusia.
Tidak ada seorang pun tang hidup tanpa pandangan hidup meskipun tingkatannya
berbeda-beda. Pandangan hidup mencerminkan citra dari seseorang karena
pandangan hidup itu mencerminkan cita-cita atau aspirasinya.
Apa yang dikatakan oleh
seseorang adalah pandangan hidup karena dipengaruhi oleh pola berfikir
tertentu. Tetapi, terkadang sulit dikatakan sesuatu itu pandangan hidup, sebab dapat
pula hanya suatuidealisasi belaka yang mengikuti kebiasaan berfikir yang sedang
berlangsung di dalam masyarakat. Setiap Bangsa, Negara maupun manusia yang
ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas kearah mana tujuan yang ingin
dicapainya sangatmemerlukan pandangan hidup. Dengan pandangan hidup yang jelas,
suatu Bangsa, Negara maupun manusia akan memiliki pegangan dan pedoman
bagaimana ia memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam gerak masyarakat yang
semakin maju. Berpedoman pada pandangan hidup itu pula seseorang akan mampu
membangun dirinya.
Pandangan hidup cendrung diikat
oleh nilai-nilai sehingga berfungsi sebagai pelengkap dalam pembuatan,
pembenaran atau rasionalisasi nilai-nilai. Pandangan hidup memberi pandangan
pada nilai-nilai yang dimilikinya sendiri baik Bangsa, Negara maupun manusia
yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekat untuk mewujudkannya.
b. Sumber
Pandangan Hidup
Macam-macam pandangan hidup
dapat digolongkan kedalam tiga kelompok, yaitu:
1) Pandangan hidup yang bersumber dari
agama (pandangan hidup muslim). Pandangan hidup ini memiliki kebenaran mutlak.
Contoh, pandangan hidup muslim(orang islam) bersumber dari Al-Quran dan sunnah
(sikap, perkataan, dan perbuatan Nabi Muhammad SAW). Dengan demikian maka pandangan
hidup muslim yang setia kepada islamtentang berbagaimasalah asasi hidup
manusia, merupakan jawaban muslim yang islam oriented mengenai berbagai persoalan pokok
hidup manusia yang tersimpul dalam Al-Quran dan Hadits.
Pandangan hidup muslim terdiri
atas:
a) Pedoman hidupnya ialah Al-Quran yang
tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 2, yang artinya: “Kitab Al-Quran tidak
ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang takwa”. Dan sunnah Rasul
(hadits), yang artinya: “Sesungguhnya aku tinggalkan untuk mu dua perkara,
tidak sekali-kali kamu tersesat sepanjang kamu berpegang pada keduanya, yaitu
kitab Allah (Al-Quran) dan Sunnah Rasul (Hadits)”. (H.R. Malik)
b) Dasar hidup ialah Islam
c) Tujuan hidupnya:
v Berdasarkan arahnya ialah:
ü Tujuan hidupnya yaitu mendapat
keridhaan Allah SWT
ü Kebahagiaan dunia dan akhirat
ü Menjadi rahmat bagi segenap Alam
v Ditinjau dari segi lingkungan
ü Tujuan sebagai individu
ü Tujuan sebagai anggota keluarga
ü Tujuan sebagai warga lingkungan
ü Tujuan sebagai warga Negara atau
Bangsa
ü Tujuan sebagai warga dunia
ü Tujuan sebagai warga alam semesta
d) Tugas hidup muslim adalah beribadah
kepada Allah
e) Fungsi hidup muslim adalah:
v Sebagai khalifah diatas bumi, yaitu
menerjemahkan segala sifat-Nya kedalam perikehidupan dan kehidupan sehari-hari
dalam batas-batas kemanusiaan (kemampuan), melaksanakan segala yang diridhai
Allah diatas persada buana ciptaan Allah, yaitu yang tercantum dalam surat
Al-Baqarah ayat 30.
v Sebagai fungsi risalah atau penerus
risalah (ajaran) Nabi, pengembang tugas dakwah kepada segenap umat manusia,
yaitu yang tercantum dalam Al-Quran surat
Ali-Imran ayat 104.
f) Alat hidup muslim adalah harta menda
dan segala sesuatu yang dimilikinya, jiwa-raga dan sebagainya
g) Teladan hidupnya adalah Nabi Muhammad
SAW utusan Allah SWT., yang dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Qalam ayat 4,
dan dalam Hadits yang artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak manusia yang utama”.
h) Kawan hidup muslim dalam arti khusus
adalah sumu/ istri yang taat kepada Allah yang tercantum dalam Al-Quran surat
An-Nisa ayat 34, Al-A’raf ayat 189, At-Taubah ayat 71, dan surat Ar-Rum ayat
21.
i) Lawan hidup muslim adalah setan yang
tercantum dalam surat Al-Baqarah
ayat 168, dan bangsa jin serta manusia yang tercantum dalam surat An-Nas ayat
4-6.
2) Pandangan hidup yang bersumber dari
ideologi merupakan abstaksi dari nilai-nilai budaya suatu negara atau bangsa.
Misalnya ideologi pancasila
3) Pandangan hidup yang bersumber dari
hasil renungan seseorang sehingga dapat merupakan ajaran atau etika hidup.
Misalnya aliran kepercayaan seperti agama Animisme, Kong Chu, Sinto, Budha,
Hindu, Angtingkan, dll.
c. Ideologi
Menurut William J. Goode, dalam
bukunya Vocabulary for
Sosiology (1959) ideologi
mengandung dua hal. Yaitu:
1) Unsur-unsur filsafat yang digunakan,
atau usulan-usulan yang digunakan sebagai dasar untuk kegiatan.
2) Pembenaran intelektual untuk
seperangka norma-norma, seperti kapitalisme dan sebagainya.
Ideologi merupakan komponen
dasar terakhir dari sistem-sistem dasar kepercayaan dan petunjuk hidup
sehari-hari. Sesuatu ideologi bagi masyarakat tersusun dari tiga unsur, yaitu:
a) Pandangan hidup (world view)
b) Nilai-nilai (value)
c) Norma-norma (lenski, 1974)
Pandangan ini menunjukkan bahwa
pandangan hidup itu merupakan bagian dari ideologi. Kebudayaan dapat membuat
kemungkinan-kemungkinan menjawab pertanyaan mengapa (why) tentang sesuatu dari kehidupan.
Untuk menjawabnya, masyarakat mengepresikan hasil kebudayaan untuk mencapai
beberapa pengertian. Dalam kenyataan ternyata ilmu pengetahuan mampu menjawap
pertanyaan mengapa (why)-nya sesuatu, tetapi sekaligus mengundang
pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
Pada abad ke-18 dan pada awal
ke-20 banyak orang berfikir bahwa ilmu pengetahuandapat menggantikan semua
kedudukan ideologi (termasuk pandangan hidup) dan merupakan pelengkap terakhir
dari keterbatasab pandangan hidup. Sudah mafhum bahwa sains modern telah
memikirkan segala sesuatu, bahkan mendidik pribadi untuk bersikap mengambil
sejumlah kemudahan dalam rumuskan pandangan hidupnya. Tetapi, lambat laun sains
tidak dapat menghasilkan kreasinya, dalam kenyataan ia menghindar dari
soal-soal yang berdasar tentang realitas.
Dalam ideologi tindak hanya ada
norma dan pandangan hidup, tetapi ada nilai-nilai. Hanya yang penting ialah
nilai-nilai itu cendrung mengikat pandangan hidup. Pandangan hidup merupakan
pelengkap nilai-nilai dalam membuat pembenaran atau rasionalisasi untuk
nilai-nilai, seperti untuk melakukan suatu kegiatan; pandangan hidup memberi
semangat kepada nilai-nilai.
Dari uraian diatas, nampak pada
kita bahwa ideologi lebih luas dari pada pandangan hidup. Ideologi biasanya
tidak dipakai dalam hubungan individu. Ideologi digunakan dalam konteks yang
lebih luas, seperti ideologi negara, ideologi masyarakat atau ideologi kelompok
tertentu. Tetapi, lahirnya suatu Ideologi dapat disusun secara sadar oleh
tokoh-tokoh pemikir suatu masyarakat atau golongan tertentu dari masyarakat,
yang diperuntukan bagi masyarakat.
B. MAKNA
CITA-CITA
Cita-cita adalah suatu keiginan
yang terkandung didalam hati, karena itu cita-cita juga berarti angan-angan,
keiginan, harapan, atau tujuan.
Cita-cita tidak dapat
dipaksakan dari kehidupan manusia, karena tanpa cita-cita berarti manusia tanpa
dinamika. Tidak ada dinamika berarti tidak ada kemajuan dan hidup asal hidup saja. Itu
sebabnya sikap hidup hanya menimbulkan daya kreatifitas manusia. Banyak hasil
seni yang melukiskan cita-cita, kebajikan dan sikap hidup seseorang. Cita-cita
sering lkali berupa perasaan hati yang merupakan suatu keinginan yang tidak ada
dalam hati. Cita-cita diartikan sebagai angan-angan, keinginan, kemauan, niat,
atau harapan, keinginan ada yang baik dan ada yang buruk, keinginan yang baik
adalah keinginan yang dicapai dengan tidak merugikan orang lain. Keinginan
buruk adalah keinginan yang dapat merugikan orang lain.
Cita-cita berarti harapan,
keinginan, dan tujuan. Contoh cata-cita yang berarti harapan. Misalnya, Adi
mendapat nilai C bukan main kecewanya, ia mengharapkan nilai A, sebab pesiapan
untuk final yang dilaksanakannya cukup lama dan ia merasa telah menguasai
benar-benar materi yang diujikan.
Cita-cita yang berarti
keinginan. Maya ingin sekali melanjutkan studinya UGM. Ia mendaftar dan
mengikuti testing masuk perguruan tinggi. Ternyata tidak lulus sehingga ia
tidak dapat melanjutkan studinya di UGM.
Contoh cita-cita tang berarti
tujuan, Nana bertujuan setamat SMA akan melanjutkan sekolahnya di Jakarta, ikut
pamannya. Ternyata tamat SMA, pamannya dipindah tugaskan keluar jawa. Hal itu
menyebabkan Nana tidak jadi melanjutkan sekolahnya di Jakarta.
Ada tiga katagori keadaan hati
seseorang.
a. Orang yang berhati keras, tak berhenti
berusaha sebelum cita-citanya tercapai. Ia tidak menghiraukan rintangan,
tantangan dan segala kesulitan yang dihadapinya. Orang yang berarti keras
biasanya mencapai hasil yang gemilang dan sukses hidupnya.
b. Orang yang berhati lunak dalam usaha
mencapai cita-cita menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Namun ia tetap
berusaha mencapai cita-cita itu, karena itu biarpun lambat ia akan berhasil
juga mencapai cita-cita.
c. Orang yang lemah, mudah terpengaruh
oleh situasi dan kondisi bila menghadapi kesulitan cepat-cepat ia berganti
haluan atau berganti keinginan.
C. MAKNA
KEBAJIKAN
Kebajikan dapat diartikan kebaikan atau perbuatan yang
mendatangkan kebaikan, keselamatan, keuntungan, kemakmuran dan kebahagiaan.
Manusia berbuat kebaikan karena menurut kodratnya, manusia dilahirkan dalam
keadaan fitrah (suci). Dengan kesucian jiwanya itu mendorong hati nuraninya
untuk berbuat kebaikan. “sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan
berbuat kebajikan”. (Q. S AN-Nahl = 90).
Manusia adalah seorang pribadi
yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan. Kedua unsur itu terpisah bila
manusia meninggal. Karena pribadi merupakan, manusia mempunyai pendapai
sendiri, ia mencintai diri sendiri, perasaan sendiri, cita-cita sendiri dan sebagainya.
Manusia merupakan makhluk
sosial: manusia hidup bermasyarakat, manusia saling membutuhkan, saling tolong
menolong, saling menghargai sesama anggota masyarakat. Sebaliknya pula saling
mencurigai, saling membanci, saling merugikan dan sebagainya. Manusia sebagai
makhluk tuhan, diciptakan manusia dapat berkembang karena Tuhan. Untuk itu
manusia di lengkapi kemampuan jasmani dan rohani, juga fasilitas alam
sekitarnya seperti tanah, air, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.
Kebajikan dapat dilihat dari tiga
segi yaitu:
a. Manusia sebagai pribadi; dapat
menentukan baik buruk. Yang menentukan baik buruk itu adalah suara hati. Suara
hati bisikan dalam hati untuk menimbang perbuatan baik atau tidak. Jadi, suara
hati itu merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati sebenarnya telah
memilih yang baik, namun manusia sering kali tidak mau mendengarkannya.
b. Manusia sebagai anggota masyarakat;
yang menentukan baik buruk adalah suara hati masyarakat. Suara hati manusia
adalah baik, tetapi belum tentu suara hati masyarakat menganggap baik.
c. Manusia sebagai makhluk Tuhan;
melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Kebajikan berasal dari dua
sumber yaitu:
a. Manusia sebagai khalifah dimuka bumi
ini (Q. S AL-Baqarah: 30)
b. Allah Yang Maha Kuasa, yang
menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya.
Kebajikan Tuhan adalah berupa
karunia-Nya. Bagi orang yang tidak beriman kepada Tuhan, mereka tidak percaya
adanya kebajikan yang berasal dari karunia-Nya, tetapi bagi orang yang beriman,
ia percaya bahwa kebajikan manusia adalah karena karunia-Nya juga, manusia
hanya sebagai perantaraannya saja.
Kebajikan dapat dikelompokkan
dalam tiga, yaiu:
a. Kebajikan yang berupa tingkah laku,
misalnya sabda dan perbuatan Nabi Muhammad SAW merupakan Rahmatan Lil’alamin.
b. Kebajikan yang berupa benda-benda,
misalnya harta kekayaan, bila tidak diamalkan maka harta tersebut hanya berjasa
bagi pemiliknya saja, bila diamalkan harta demikian berfungsi untuk sosial.
c. Kebajikan yang berupa benda yang tak
berwujud, misalnya ilmu pengetahuan, kemampuan dan keahlian untuk menciptakan
sesuatu.
Pepatah mengatakan bahwa. “Ilmu
yang tidak di amalkan ibarat pohon yang tidak berbuah”. Tetapi ilmu yang
diamalkan memiliki makna kebajikan dan keutamaan yang dalam sekali. Nabi
Muhammad SAW bersabda “Barang siapa yang di kehendaki baik oleh Allah maka
ia di pintarkan dalam hal keagamaan dan diilhami oleh-Nya kepandaian dalam hal
itu”. (H. R Bukhari, Muslim, Tabrani).
Hadits diatas menjelaskan bahwa
betapa tinggi nilai ilmu pengetahuan itu sehingga dipersamakan seiring dengan
derajat kenabian, betapa pula rendahnya suatu amalan yang sunyi dari ilmu
pengetahuan, sekalipun yang beramal ibadat itu tentunya tidak terlepas dari
pengetahuan cara ibadat yang senantiasa di kekalkan mengerjakannya, maka jika
tanpa pengetahuan cara peribadatannya pastilah bukan ibadat namanya.
Contoh seperli wasiat Luqman
kepada anaknya: “Hai anak ku, pergaulilah para alim ulama dan rapatilah
mereka itu dengan kedua lutut mu, sebab sesungguhnya Allah SWT menghidupkan
hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan lebat
dari langit”.
Hidup adalah kegelapan
Jika tanpa hasrat dan keinginan
Hasrat adalah butang
Jika tanpa pengetahuan
Dan pengetahuan adalah hampa
Jika tidak diikuti pelajaran
Semua pelajaran akan sia-sia
Jika tidak disertai cinta
(KAHLIL GIBRAN)
D. KEPERCAYAAN/
KEYAKINAN
Menurut Prof. Dr. Harun
Nasution (bahan ceramah
pada perantaran pengajar Ilmu Budaya Dasar di Bukit Tinggi, 1981), menurut
beliau ada tiga aliran filsafat:
a. Aliran
Naturalisme
Hidup manusia dihubungkan
dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari
natur, dan natur itu dari Tuhan. Tetapi bagi yang tidak percaya pada Tuhan,
natur itulah yang tinggi. Tuhan menciptakan alam semesta lengkap dengan
hukum-hukumnya, secara mutlak di kuasai Tuhan. Manusia sebagai makhluk tidak
mampu menguasai alam ini karena manusia itu lemah, manusia hanya dapat berusaha
dan berencana tapi yang menentukannya adalah Tuhan.
Bagi yang percaya pada Tuhan,
Tuhan itulah kekuasaan tertinggi. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, karena
itu manusia mengabdi pada ajaran-ajaran Tuhan yaitu agama. Ajaran agama ada dua
yaitu:
ü Ajaran agama yang dogmatis yaitu yang
di sampaikan Tuhan melalui Nabi-Nabi, sifatnya tetap dan tidak berubah
ü Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama,
yaitu sebagai hasil pemikiran manusia, sifatnya relatif (terbatas) dan berubah
sesuai dengan perkembangan agama.
Apabila aliran naturalisme ini
di hubungkan dengan pandangan hidup maka keyakinan manusia itu bermula dari
Tuhan. Jadi, pandangan hidup yang dilandasi oleh ajaran-ajaran agama, manusia
yakin bahwa kebajikan itu di ridhai oleh Tuhan. Pandangan hidup yang dilandasi
bahwa Tuhanlah kekuasaan tertinggi, yang menentukan segala-galanya disebut
pandangan hidup keagamaan (religius), sebaliknya apabila manusia tidak mengakui
adanya Tuhan, natur adalah kekuatan tertinggi, maka keyakinan itu berasal dari
natur dan pandangan hidup yang dilandasi oleh natur, manusia yakin bahwa
kebajikan itu kebajikan natur dan pandangan hidup ini sifatnya ateistik.
Disebut pandangan hidup komunisme.
b. Aliran
Intelektualisme
Dasar aliran ini adalah akal
atau logika. Manusia mengutamakan akal, dengan akal manusia berfikir. Mana yang
benar menurut akal itulah yang baik, walaupun mungkin bertentangan dengan hati
nurani . akal berasal dari bahasa Arab yang artinya Kalbu yang berpusat dihati,
sehingga timbullah istilah “Hati Nurani” artinya daya rasa.
Apabila aliran ini di hubungkan
dengan pandangan hidup, maka keyahinan manusia itu bermula dari akal. Jadi,
pandangan hidup itu dilandasi oleh keyakinan, kebenaran yang diterima akal.
Benar menurut akal itulah yang baik. Manusia yakin bahwa kebajikan hanya dapat
diperoleh dengan akal.
c. Aliran
Gabungan
Aliran gabungan adalah kekuatan
gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan,
percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan akal adalah dasar
kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai
dengan akal, baik sebagai logika berfikir maupun sebagai lohika rasa. Jadi, apa
yang benar menurut logika berfikir, juga dapat diterima oleh hati nurani.
Logika berfikir tidak ditekankan pada logika berfikit individu, melainkan
logika berfikir kolektef (masyarakat) pandangan hidup ini adalah disebut
sosialisme akal dalam arti baik sebagai logika berfikir maupun sebagai daya
rasa, logika berfikir secara individual maupun kolektif. Pandangan hidup ini disebut
sosialisme religius. Dua pandangan hidup ini terdapat perbedaan pokok.
Pandangan hidup sosialisme menekan pada logika berfikir kolektif, sedangkan
pandangan hidup sosialisme religius menekan pada logika berfikir kolektif dan
individual. Pandangan hidup sosialisme mengutamakan logika berfikir dari pada
hati nurani, sedangkan sosialisme religius mengutamakan kedua-duanya, logika
berfikir dan hati nurani.
E. MAKNA
SIKAP HIDUP
Sikap hidup adalah keadaan hati
dalam menghadapi hidup ini. Sikap itu bisa positif, bisa negatif, apatis atau
sikap optimis atau persimis, bergabung pada pribadi orang itu dan juga
lingkungannya.
Sikap itu penting, setiap orang
mempunyai sikap dan sudah
tentu tiap-tiap orang berbeda sikapnya. Sikap dapat dibentuk sesuai dengan kemauan
yang membentuknya. Pembentukan sikap ini terjadi melalui pendidikan. Seperti
halnya orang militer yang bersikap tegas, berdisiplin tinggi, sikap kesatria,
karena dalam kemiliteran ia dididik kearah sikap itu. Sikap dapat juga berubah
karena situasi, kondisi, dan lingkungan.
Dalam menghadapi kehidupan,
yang berarti manusia menghadapi manusia lain atau menghadapi kelompok manusia,
ada beberapa sikap etis dan nonetis. Sikap etis ini disebut juga sikap positif
yaitu sikap lincah, sikap tenang, dikap halus, sikap berani, sikap arif, sikap
rendah hati dan sikap bangga.
Sikap nonetis atau negatif
ialah sikap kaku, sikap gugup, sikap kasar, sikap takut, sikap angkuh, sikap
rendah diri. Sikap-sikap itu harus di jauhkan dari diri pribadi, karena sangat
merugikan baik bagi pribadi masing-masing maupun bagi kemajuan bangsa.
Dalam berbagai perpustakaan,
khususnya yang menelaah sikap manusia, ada semacam kesepakatan bahwa sikap
tidak lain merupakan produk dari proses sosialisasi dimana seseorang berarti
bahwa sikap seseorang terhadap objek tertentu pada dasarnya merupakan hasil
penyesuaian diri seseorang terhadap objek yang bersangkutan dengan dipengaruhi
oleh lingkungan susial serta kesediaan untuk bereaksi terhadap objek tersebut
Dalam kurun waktu setengah abad
terakhir inipengkajian terhadap sikap manusia, khususnya yang dilakukan oleh
disiplin spikologi sosial, ada yang mengatakan sikap berpangkal pada pembawaan
atau kepribadian, ada yang menempatkan sikap sebagai motif atau sesuatu kontruk
yang mendasari tingkah laku seseorang, dan ada pula yang mengidentikkan sikap
sengan keyakinan, kebiasaan, pendapat atau konsep-konsep yang dikembangkan oleh
seseorang. Bahwa mengidentifikasi sikap tidak dapat dilihat secara langsung
akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang masih
tertutup. Secara operasional pengertian sikap menunjukkan konotasi ada
kesesuaian reaksi terhadap katagori stimulus tertentu, sementara dalam
penggunaan praktis sikap sering kali dihadapkan dengan rangsang sosial dan reaksi
yang bersifat emosional.
Menurut T. M. Newcomb, sikap
manusia bukanlah suatu kontruk yang berdiri sendiri, akan tetapi paling tidak
ia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan yang lain, seperti dorongan,
motivasi, nilai-nilai sikap. Dorongan adalah keadaan organisme yang
menginisiasikan kecendrungan kearah aktivitas umum. Motivasi adalah kesiapan
yang ditujukan pada sasaran dan dipelajari untuk tingkah laku dan bermotivasi.
Sikap adalah kesiapan secara umum untuk suatu tingkah laku bermotivikasi, sedangkan
nilai-nilai adalah sasaran atau tujuan yang bernilai terhadap berbagai pola
sikap dapat.
Menurut Van Peursen dalam
bukunya strategi kebudayaan mengenai aktualisasi sikap manusia dari zaman ke
zaman dalam menghadapi kekuasaan-kekuasaan tersebut, melihat adanya 3 periode
peralihan yang mencolok yang dialami manusia pada umumnya. Ketiga pagiode itu
adalah:
a. Tahap mitis ialah sikap manusia yang
merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib disekitarnya, yaitu
kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan
b. Tahap antiologi ialah sikap manusia
yang tidak hidup lagi dalam kepungan, ia menyusun suatu ajaran atau teori
mengenai dasar hakikatnya segala sesuatu (antologi) dan mengenai segala sesiatu
menurut perinciannya (ilmu-ilmu)
c. Tahap fungsianal ialah sikap dan alam
pikiran yang makin nampak dalam diri manusia modern. Ia tidak begitu terpesona
lagi oleh lingkungan (sikap mitis), ia tidak lagi dengan kepala dingin ambil
jarak terhadap objek penyelidikannya (sikap antologis).
Sementara itu Franz Magnis
Suseno melihat adanya dua bahaya yang terjadi kendala bagi manusia dalam upaya
memenuhi ataupun mempertahankan sikap hidup, kedua bahaya yang dimaksud adalah
nafsu dan pamrih.
Nafsu adalah perasaan-perasaan
kasar yang bisa menggagalkan kontrol diri manusia dan sekaligus membelenggunya
secara buta secara lahir. Nafsumemperlemah manusia karena pemborosan
kekuatan-kekuatan batin tanpa guna. Seseorang yang dikuasai nafsu, boleh jadi
tidak lagimenuruti akal budinya, tidak bisa lagi mengembangkan segi-segi
halusnya, semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik dan
ketegangan-ketegangan dalam masyarakat dan pada instansi terakhir, membahayakan
ketentraman.
Pamrih dan egoisme juga menjadi
musuh manusia. Ini bias dimengerti mengingat seseorang yang bertindak lantaran
pamrih semata-mata biasanya cendrung mengusahakan kepentingannya sendiri tanpa
memperdulikan kepentingan masyarakat. Dilihat dari kacamata sosial pun pamrih
itu selalu mengacau karena merupakan tindakan tanpa perhatian terhadap
keselarasan sosial. Selain itu pamrih sekaligus memperlemah manusia dari
dalam, karena sikap yang
mengajar pamrih biasanya akan memutlakkan kekuatannya sendiri. Dengan demikian
itu ia mengisolasikan dirinya sendiri dan memotong diri dari sumber
kekuatan batin yang tidak
terletak dalam individualitasnya, melainkan dalam dasar yang mempersatukan
semua kekuata pada dasar jiwa mereka.
Menurut Soetrisno dalam bukunya
Falsafah Hidup Pancasila sebagaimana tercermin Falsafah Hidup Orang Jawa, ia
melihat adanya tiga, yaitu:
a. Selalu ingin menang sendiri
b. Selalu ingin benar sendiri
c. Hanya mementingkan kebutuhannya
sendiri
Selain yang tertera diatas ada
juga sikap lain yang dianggap kurang baik, yaitu kebiasaan untuk menarik
keuntungan sendiri dari setiap situasi tanpa memperhatikan masyarakat
kecendrungan untuk memperoleh hak yang lebih dibanding orang lain dengan alasan
juga yang diberikannya.
F. MANUSIA
DAN PANDANGAN HIDUP
Akal dan budi sebagai milik
manusia ternyata membawa ciri tersendiri akan diri manusia itu. Sebab akal dan
budi mengakibatkan manusia memiliki keunggulan dibandingkan makhluk lain. Satu
diantara keunggulan manusia tersebut adalah pandangan hidup. Disatu pihak
manusia menyadari kehidupannya lebih kompleks.
Pandangan hidup berupa suatu
penggaris yang mungkin dapat dinyatakan dengan kata-kata sebagai rumusan juga
dapat dikatakan rumusan:
a. Orang yang sulit menyusun perasaan,
pikiran dan kejiwaan.
b. Juga karena ia sendiri menyadari bahwa
mungkin ia dapat berbuat/ bertindak yang melanggar prinsip-prinsip yang
dikatakan.
c. Dan khawatir kalau ada kritik besar
dan penyelewengan pandangan hidup dari anak-anak atau orang yang di bimbing.
Menurut Drijarko S. J.
Mengatakan bahwa manusia itu serba terhubung dengan dunia jasmani sekitarnya,
terhubung erat dengan masyarakat dan akhirnya manusia itu tergantung seluruhnya
pada yang ada, yang mutlak, yaitu Tuhan.
Pandangan hidup adalah Filsafat
hidup. Sesuai dengan arti filsafat yaitu cinta akan kebenaran tentulah bentuk
kebenaran yang akan dicapai kebenaran yang dapat diterima oleh siapa saja.
Kesadaran akan kelemahan
dirinya memaksa manusia mencari kekuatan diluar dirinya. Dengan kekuatan ini
manusia berharap dapat terlindung dari ancaman-ancaman yang selalu mengintai
dirinya, baik yang fisik maupun yang non fisik, seperti penyakit, bencana alam,
kegelisahan, ketakutan.
Banyak orang yang pandangan
hidupnya didasari pandangan-pandangan hidup untuk mengumpulkan harta
sebanyak-banyaknya; pada waktu mudanya, tetapi disaat-saat mendekati
kematiannya mulai berbuat seperti orang-orang yang hidup beragama.
Jadi pandangan hidup merupakan
keseluruhan garis dan kecendrungan jalan-jalan dan nilai-nilai yang akan
dicapaiuntuk landasan semua dimensi kehidupan. Dengan demikian bahwa pandangan
hidup merupakan masalah yang asasi bagi manusia. Sayangnya manusia tidak
memahami dan menyadarinya, sehingga banyak orang yang memeluk sesuatu agama
semata-mata atau sadar keturunan. Akibatnya banyak orang yang beragama hanya
pada lahirnya saja dan tidak sampai batinnya, atau sering dikenal dengan agama
KTP. Padahal urusan agama adalah urusan akal, seperti dikatakan oleh Nabi
Muhammad SAW: “Agama adalah akl, tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak
berakal”.
Maksud Nabi Muhammad SAW
tersebut adalah agar manusia dalam memilih suatu agama benar-benar berdasarkan
pertimbangan akalnya, dan bukan semata-mata karena asas keturunan. Hal ini di
tegaskan dalam firman Allah SWT, surat Al-Baqarah ayat 236 yang artinya: “Tidak
ada paksan untuk memasuki suatu agama, sesungguhnya telah jelas antara jalan
(agama) yang benar dan jalan (agama) yang salah”.
Dalam firman Allah SWT itu
tersirat bahwa betapa Dia menghargai akal manusia. Dia hanya menawarkan atau
mendorongkan ini yang baik dan ini yang buruk. Akhir keputusan terserah kepada
manusia, sebab manusia mempunyai akal. Dan Allah SWT telah berfirman dalam
surat Ali Imran ayat 19 yang artinya: ”Agama yang benar bagi Allah itu
hanyalah Islam”. Namun agama apa yang akan dipilih oleh manusia sebagai
sandaran hidupnya, diserahkan hidupnya kepada manusia itu sendiri.
Pandangan hidup ternyata sangat
penting, baik untuk kehidupan sekarang maupun kehidupan di akhirat, dan sudah
sepantasnya setiap manusia memilikinya. Maka pilihan pandangan hidup harus
betul-betul berdasarkan pilihan akal, bukan sekedar ikut-ikutan saja.
Pandangan hidup berbeda dengan
cita-cita. Cita-cita misalnya:
ü Ingin punya istri cantik, terpelajar
tapi setia
ü Ingin punya suami tinggi, tampan
(simpatik), pilot dan setia
ü Ingin jadi insinyur, doktor, atau
pilot
ü Ingit hidup selamat, bahagia alis
tidak kekurangan apapun
Sedangkan pandangan hidup:
ü Hidup bahagia, sejahtera
ü Hidup sejahtera, penuh kebahagiaan dan
cinta kasih
ü Hidup panjang umur untuk sanad kerabat
dan dirinya serta bahagia, penuh cinta kasih
BAB III
PENUTUP
I. KESIMPULAN
1. Pandangan hidup adalah nilai-nilai
yang dianut oleh suatu masyarakat, yang dipilih secara selektif oleh para
indifidu dan golongan dalam masyarakat.
2. Pandangan hidup merupakan pandangan
hidup manusia, tidak ada seorang pun yang hidup tanpa pandangan hidup walaupun
tingkatnya berbeda-beda.
3. Pandanga hidup dapat dikelompokkan
kedalam tiga, yaitu:
a. Pandangan hidup yang bersumber dari
agama(pandangan hidup muslim)
b. Pandangan hidup yang bersumber dari
ideologi
c. Pandangan hidup yang bersumber dari
hasil perenungan seseorang
4. Menurut William ideologimengandung dua
hal, yaitu:
a. Unsur-unsur filsafah yang digunakan, atau
usulan-usulan yang digunakan sebagai dasar untuk kegiatan
b. Pembenaran intelektual untuk
seperangkat norma-norma
5. Suatu ideologi masyarakat terdiri dari
tiga unsur, yaitu:
a. Pandangan hidup
b. Nilai-nilai
c. Norma-norma
6. Menurut Prof. Dr. Harun Nasition ada
tiga aliran filsafat, yaitu:
a. Aliran naturalisme
b. Alitan intelektualisme
c. Aliran gabungan
7. Sikap hidup adalah keadaan hati
seseorang dalam menghadapi hidup, sikap itu bisa positif jan juga bisa negatif,
apatis atau sikap optimis, bergabung pada pribadi orang itu dan juga
lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
Mustopo, M. Habib, Ilmu Budaya Dasar. Surabaya:
Usaha Nasional. 1983
Notowidagdo, Rohiman, Ilmu Budaya Dasar Berdasarka Al-Quran
Dan Hadits. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 2002
Prasetya, Drs. Joko Tri, Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT.
Rieneka Cipta. 1998
Pudjawiyatna, Prof. Ir. Etika Filsafat Tingkah Laku.
Jakarta: PT.Bina Aksara. 1982
Sulaeman, M. Munandar. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar.
Bandung: PT. Eresco. 1995
Widagdho, Djhoko. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT.
Bumi Akrasa. 2003
0 komentar:
Posting Komentar